Indonesia berdasarkan Global TB Report 2019 menjadi salah satu negara dengan penyumbang kasus TBC Paru dan kematian oleh penyakit tuberkulosis.  Meski demikian penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis ini dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi obat anti-TBC (OAT) secara rutin, yaitu selama 6-9 bulan. Adapun pengobatan TBC yang biasa diberikan kepada pasien TBC terdiri atas kombinasi antibiotik jenis rifampisin, isoniazid, pirazinamid, ethambutol dan streptomisin. 

Lamanya masa pengobatan ini tiap pasien juga berbeda-beda, tergantung pada kondisi kesehatan pasien dan tingkat keparahan gejala TBC yang diderita pasien. Selain itu tantangan yang kerap dihadapi pasien TBC adalah efek samping OAT. Untuk beberapa pasien efek samping tersebut bisa tergolong ringan, untuk sebagian ergolong berat. Dan tidak sedikit yang akhirnya putus pengobatan karena pengaruh efek samping dari pengobatan OAT. Lantas apa saja efek samping yang kerap dihadapi pasien TBC? Berikut sejumlah efek samping pengobatan OAT yang perlu diwaspadai, diantaranya:

1.         Gangguan fungsi hati

Ini merupakan efek samping paling umum dari semua jenis OAT. Gejalanya adalah mata dan kulit terlihat kuning, disertai mual dan muntah, serta peningkatan enzim hati.

2.         Gatal dan kemerahan pada kulit

Keluhan ini juga merupakan efek samping dari hampir seluruh jenis OAT. Gejalanya adalah kuilt tampak merah, gatal, dan bentol. Pada kondisi berat, gejala dapat disertai sesak napas, demam tinggi, dan kulit melepuh. Hal ini terjadi akibat reaksi hipersensitif terhadap OAT.

3.         Nyeri sendi

Nyeri sendi dapat terjadi akibat efek salah satu jenis OAT, yaitu pyrazinamid. Pasalnya, pyrazinamid dapat meningkatkan kadar asam urat sehingga muncul nyeri sendi. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian obat asam urat tanpa harus menghentikan konsumsi OAT.

4.         Kesemutan hingga rasa terbakar di kaki

Kondisi ini adalah efek samping dari OAT, yaitu isoniazid. Obat tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada saraf tepi (neuropati), sehingga muncul gejala kesemutan dan rasa terbakar khususnya di ujung anggota gerak tubuh. Pada kondisi tertentu, isoniazid tidak perlu dihentikan dan dokter akan menambahkan vitamin B untuk mengurangi keluhan kesemutan.

5.         Gangguan pendengaran

Masalah pendengaran biasanya disebabkan oleh OAT yang disuntikkan, yaitu streptomisin. Obat tersebut memang memiliki efek samping yang merusak organ dalam pendengaran. Akan tetapi, tidak semua pasien yang mendapat streptomisin akan mengalami gangguan pendengaran. Efek samping umumnya hanya terjadi pada pasien TBC lanjut usia. Meski demikian fungsi pendengaran biasanya akan kembali normal jika konsumsi obat dihentikan.

6.         Urine dan keringat berwarna merah

Salah satu jenis OAT, yaitu rifampisin dapat menyebabkan munculnya warna merah pada urine dan keringat. Hal ini sebenarnya adalah pigmen warna obat, bukan karena perdarahan. Namun, efek samping ini tetap harus diketahui pasien agar tidak panik, dan lantas menghentikan pengobatan ketika terjadi.

 

Apabila pasien TBC mengalami sejumlah efek samping OAT di atas, maka perlu mengkonsultasikan kepada dokter yang merawat. Dokter akan melakukan  analisa efek samping dari masing-masing OAT yang dikonsumsi oleh pasien untuk mengetahui OAT mana yang menyebabkan efek samping tersebut. Bila telah diketahui jenis obatnya, biasanya dokter akan memberikan perubahan dosis atau mengganti OAT yang sesuai dengan kondisi pasien. Meski demikan, pasien diharapkan tidak menghentikan pengobatan selama efek samping tersebut dialami selama menjalani masa pengobatan, karena hal ini juga berisiko untuk membuat pasien mengalami TBC Resistan Obat (TBC RO).

Sekarang ini dengan banyak keluhan efek samping OAT, maka telah tersedia obat antituberkulosis dalam bentuk kombinasi dosis tetap. Pemakaian obat antituberkulosis-kombinasi dosis tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Tablet OAT-KDT terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Paduan OAT terdiri dari kategori 1 dan kategori 2 disediakan dalam bentuk paket OAT-KDT, sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.

Pengetahuan tentang efek samping OAT ini sangat penting untuk disampaikan kepada setiap pasien TBC, Pengawas Minum Obat atau keluarganya untuk mencegah pasien tidak meneruskan pengobatan atau meninggalkan program pengobatan TBC tanpa pemberiatahuan kepada petugas kesehatan, yang justru akan menimbulkan kasus baru, misalnya resistansi obat, gagal berobat dan sebagainya.

  

Sumber:

  1. https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3625092/efek-samping-obat-tuberkulosis-yang-perlu-diwaspadai
  2. https://www.yki4tbc.org/apa-itu-tb/tb-tbc/pengobatan-tb.html
  3. https://www.yki4tbc.org/apa-itu-tb/tb-tbc/efek-samping-obat-anti-tb.html
  4. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan, 2011.

 

Editor: Melya, Wera Damianus
Gambar: Amadeus Rembrandt