Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sesuai dengan tata laksana penanganannya, maka orang yang terkena TBC harus menjalani pengobatan TBC hingga tuntas. Meski demikian, seringkali efek samping obat dan lamanya masa pengobatan menjadi kendala putusnya pengobatan. Tentu hal ini berdampak pada kondisi pasien yang kian memburuk serta potensi mengalami resistansi (kebal) obat antibiotik atau disebut juga dengan TBC Resisten Obat (TBC RO).

Penggunaan antibiotik harus dengan anjuran dokter. Biasanya dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien, menginfokan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum dan saat menggunakan obat, serta efek samping obat. Dikutip dari klikdokter.com, pengobatan TBC juga menggunakan antibiotik khusus serta membutuhkan waktu lebih lama, hal ini dikarenakan beberapa alasan, diantaranya:

  1. Jika hanya diobati dalam waktu singkat, masih ada kuman tuberkulosis yang tersisa dan dapat menyebabkan kekambuhan penyakit. Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap awal (2 bulan) dan tahap lanjutan. Pengobatan pada tahap awal dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resistan sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Sedangkan pada tahap lanjutan bertujuan membunuh sisa sisa kuman yang masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan.
  2. Mencegah kekebalan (resistensi) bakteri terhadap jenis antibiotik yang digunakan, sehingga bakteri akan menjadi lebih ganas dan lebih sulit diobati.

Bakteri penyebab TBC Resisten Obat, biasanya kebal terhadap dua jenis obat TBC, yaitu rifampicin dan isoniazid. Padahal isoniazid (INH) merupakan jenis antituberkulosis yang paling ampuh untuk membunuh bakteri TBC. Obat ini dapat membunuh 90% kuman TBC dalam beberapa hari pada tahap pengobatan intensif. Sementara rifampicin dapat membunuh kuman yang tidak dapat dibunuh oleh obat isoniazid. Kedua obat ini termasuk antibiotik. Antibiotik sendiri merupakan kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh.

Di lansir dari laman who.org, disebutkan bahwa TBC RO adalah penyumbang utama resistensi antimikroba dan menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Setiap tahun, sekitar setengah juta orang jatuh sakit dengan TBC RO secara global. Berdasarkan Global TB Report 2020, pada tahun 2019, Indonesia mencatat 562.000 kasus TBC ternotifikasi, dimana dari jumlah kasus tersebut, estimasi 24,000 kasus merupakan kasus pasien TBC RO dengan angka mulai pengobatan (enrolment rate) sebesar 48% (5.531 pasien). Angka ini di bawah target pengobatan, yaitu sebesar 90%.

Pengobatan TBC RO masih menjadi tantangan secara global. Hal ini dikarenakan pengobatan TBC RO lebih lama dan efek samping yang terjadi juga lebih banyak. Bahkan orang dengan TBC RO biasanya akan dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti persoalan ekonomi dan sosial.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Pekan Kesadaran Antibiotik pada tanggal 18-24 November setiap tahunnya. Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang resistensi antibiotik serta untuk mendorong praktik baik di kalangan masyarakat umum, petugas kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk menghindari munculnya dan penyebaran resistensi antibiotik yang berkelanjutan. Dengan minum obat secara teratur hingga tuntas dan sesuai dengan petunjuk dokter, maka angka keberhasilan pengobatan TBC pun dapat meningkat, serta mencegah potensi terjadinya resistensi.

 

Sumber:

 

Editor: Melya, Triftianti Lieke