Sanatorium merupakan fasilitas kesehatan untuk penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) yang dimulai sejak zaman Hindia Belanda. Ada beberapa catatan terkait penanganan penyakit TBC di Indonesia di era ini, yaitu didirikannya perkumpulan Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) di  tahun 1908 yang kemudian terus mengembangkan pelayanan penanganan TBC di Indonesia. Hingga tahun 1939, telah didirikan 15 sanatorium untuk perawatan pasien TBC paru dengan total 20 petugas penyuluh yang bertugas memberikan penyuluhan dan pengobatan TBC.

Pada zaman Orde Lama (1945-1966) didirikan Lembaga Pemberantasan Penyakit Paru-Paru (LP4) di Yogyakarta, yang kemudian dikenal dengan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4). Lembaga tersebut disebarluaskan hingga ke 53 titik lokasi. Konsep Lembaga pengobatan ini awal mulanya diperkenalkan oleh dr. Danish Niels Finsen pada tahun 1900-an melalui metode pengobatan sinar matahari, dimana banyak pasien TBC ditampung di sanatorium untuk penyembuhan.

Sanatorium memiliki fungsi penting dalam mendukung program TBC diantaranya adalah untuk memberikan penanganan medis yang memadai dan perawatan yang efektif bagi pasien TBC selama proses pemulihan, mengatasi penyebaran infeksi dengan memisahkan pasien dari lingkungannya, mengajarkan pasien bagaimana hidup dalam batasan-batasan yang ditentukan untuk penyakit TBC, serta berfungsi sebagai pusat diagnostik untuk daerah sekitarnya. Prinsip dasar perawatan pasien TBC di sanatorium adalah kombinasi asupan gizi yang baik, lingkungan bersih dan segar, istirahat yang cukup ditambah olah raga yang direkomendasikan petugas kesehatan.

Saat ini sanatorium sudah tidak digunakan lagi karena sejak dilakukan pengobatan menggunakan Obat Anti TBC (OAT) serta penyuluhan di balai-balai pemberantasan penyakit tuberkulosis. Kelebihan pengobatan dengan OAT ini adalah untuk menghindari rawat inap berkepanjangan serta menekan biaya perawatan yang cukup besar. Saat ini sebagian sanatorium diubah menjadi RS Paru.

 

Sumber:
Pope, Alton S. The Role of the Sanatorium in Tuberculosis Control. 1938. Volume 16, Issue 4 (pages 327–337)

Editor: Melya Findi dan Alva Juan
Gambar: Amadeus Rembrandt