Ketika seseorang terkena TBC, bakteri TBC secara otomatis sudah menginfeksi paru-parunya. Apabila hal ini terjadi pada penderita dengan status HIV positif maka ia membutuhkan pengobatan secara rutin. Secara umum, Terapi antiretroviral (ART) yang adalah pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus pada pasien HIV diberikan setlah 2-8 minggu pasien TB-HIV mendapatkan OAT (obat anti tuberkulosis). 

TBC pada ODHA dapat diobati, kedisiplinan dalam mengikuti pengobatan sesuai pola waktu yang ditentukan merupakan kunci penting yang harus dilakukan oleh pasien. Bila pasien tidak mengkonsumsi obatnya secara disiplin, kemungkinan TBC akan resistan terhadap obat yang dikonsumsi. Bila itu terjadi, obat tersebut tidak efektif lagi, dan kita harus memakai obat anti-TBC yang lain, dengan waktu pengobatan yang lebih panjang.

Dengan semakin banyak kasus TBC di antara ODHA, dan juga semakin banyak pasien dengan TBC diketahui juga terinfeksi HIV, maka penting penyediaan layanan kesehatan yang terpadu untuk kedua infeksi ini. Memadukan layanan kesehatan untuk TBC dan HIV dapat memberi manfaat bagi pasien dengan TBC-HIV untuk dapat diobati dengan satu kunjungan ke klinik serta mengurangi waktu tunggu di klinik. Hal ini tentunya berkaitan dengan resiko ODHA menjadi tertular bakteri TBC. 

 

Sumber: 
Green, Chris W. 2016. Seri Buku Kecil: HIV & TB. Jakarta: Spiritia. 

Editor: Melya Findi dan Melinda Soemarno
Gambar: Amadeus Rembrandt